Sebuah Akuntabilitas

Sejak Perjanjian Lama, Bapa Gereja awal telah mengamati bahwa poligami adalah masalah yang membawa kesedihan bagi pria dan wanita. Abraham dengan Sarah dan Hagar, Yakub dengan Rahel dan Lea, Elkana dengan Hana dan Penina. Poligami alkitabiah ini menggambarkan persaingan sengit antara istri mereka, perselisihan sengit di antara anak-anak mereka atas warisan, persaingan mematikan di antara saudara tiri yang akhirnya meningkat menjadi inses, perzinahan, penculikan, perbudakan, pembuangan, dan banyak lagi. 

Raja Daud yang agung dengan penuh nafsu membunuh suami Batsyeba untuk menambahkannya ke haremnya yang sudah banyak. Raja Salomo dengan ribuan istri dan selirnya membawanya ke dalam penyembahan berhala, dan anak-anaknya akhirnya memperkosa, menculik, dan membunuh satu sama lain, yang memicu perang saudara di Israel kuno.

Beberapa filsuf dan teolog berpendapat hal ini mereduksi perempuan menjadi budak saingan dalam rumah tangga, hingga sampai dipaksa untuk menghidupi diri mereka sendiri dan anak-anak mereka ketika perempuan dan anak-anak lain ditambahkan ke dalam rumah tangga di luar keinginan mereka. 

Anak-anak juga dirugikan dengan peluang kelahiran dan kelangsungan hidup mereka yang berkurang oleh ayah mereka yang bisa jadi pada akhirnya menjadi penuh perhitungan (eg.karena beban ekonomi) dengan mengontrasepsi, menggugurkan, atau menjual mereka. Pernikahan dini untuk anak perempuan akan menjadi hal biasa, sering kali pada pria yang jauh lebih tua. Aktivitas seksual dini yang dihasilkan, kehamilan dan persalinan memiliki implikasi kesehatan yang negatif bagi anak perempuan dan juga secara signifikan membatasi perkembangan sosial ekonomi mereka. Belum lagi bila ibu mereka kekurangan sumber daya, dukungan, dan perlindungan selama masa kehamilan.

Laki-laki pun bisa jadi juga dirugikan karena tidak punya waktu, tenaga, atau sumber daya untuk mendukung rumah tangga poligami mereka, (dan secara psikologis) pikiran dan hati mereka tidak akan beristirahat karena akan (mempunyai kecenderungan) selalu mencari wanita lain untuk menambah harem mereka. Suami mengumpulkan istri seolah piala spiritual, dan mengukur iman dan pahala mereka dengan ukuran harem dan pembibitan mereka.

Hal itu semua pada akhirnya akan merugikan tatanan masyarakat, menciptakan pola disfungsi sosial yang menyalahgunakan program kesejahteraan sosial..

Poligami yang dipahami sebagai pola seksis yang terinternalisasi, adalah salah satu tantangan terbesar bagi kemanusiaan. Ada yang mengklasifikasikannya sebagai sejenis perbudakan, yang melibatkan aspek budaya yang membuat pihak tertentu terikat atau memperkuat inferioritas mereka. Komite Hak Asasi Manusia PBB juga telah menyebutkan bahwa poligami melanggar martabat wanita. Orang Yunani pada abad ke-5 dan ke-4 SM bahkan mencela poligami sebagai bentuk tirani domestik. 

Filsuf Inggris, John Locke, menganggap poligami sebagai pelanggaran terhadap kesetaraan alami antara pria dan wanita, serta hak alami anak-anak untuk diasuh dengan baik dan didukung sepenuhnya oleh ibu dan ayah mereka. Filsuf Skotlandia Henry Home dan David Hume berpendapat, poligami akan melahirkan patriarki tirani atau kepatuhan budak, pada anak-anak (generasi penerus). Anak-anak poligami—yang ibunya dikucilkan, yang ibu tirinya bermusuhan, dan yang ayahnya jauh dan teralihkan—sama sekali tidak bisa belajar keseimbangan yang sehat antara otoritas dan kebebasan, kesetaraan dan rasa hormat, serta kepemilikan dan tanggung jawab yang mereka butuhkan untuk berkembang dalam masyarakat demokratis. 

Kita bisa saja tergoda untuk berpikir poligami tidak bisa dihindari. Dalam keadaan alamiah, orang pada umumnya berpoligami, seperti kebanyakan hewan. Bahkan St Agustinus dan filsuf seperti Hugo Grotius berpikir bahwa, bahkan jika dilarang, satu pria dengan banyak istri adalah bentuk prokreasi “alami”.

Namun jika demikian, itu berarti kita tidak terlalu peduli tentang melindungi yang rentan.

Dalam poligami tradisional (saat ini poligami hampir secara eksklusif mengambil bentuk satu suami dengan banyak istri), hanya satu orang yang boleh menikah dengan banyak pasangan. Pasangan sentral ini membagi dirinya di antara banyak pasangan, tetapi setiap pasangan periferal tetap secara eksklusif dikhususkan untuk pasangan sentral. Jadi pasangan sentral yang “berbudi luhur” ini memiliki lebih banyak hak dan lebih sedikit kewajiban daripada setiap pasangan periferalnya. Selain itu, pasangan sentral memiliki kontrol lebih besar atas keluarga daripada setiap pasangan periferal. Hal ini melanggengkan ketidaksetaraan gender, dengan istri secara resmi dan terang-terangan disubordinasikan kepada suami mereka.

Thomas Aquinas mengemukakan, bahwa manusia, berbeda dari hewan dalam hal dorongan seks abadi atau pun musim kawin tahunan. Banyak bukti menunjukkan bahwa kebanyakan pria dan wanita sama-sama secara naluriah tertarik pada keintiman pasangan tunggal jangka panjang dan secara naluriah jijik dan marah jika dipaksa untuk berbagi tempat tidur dan pasangan mereka dengan pihak ketiga.  Bayi dan anak2 yang dihasilkan dari perkawinan manusia adalah lebih rentan, yang membutuhkan dukungan dari ibu dan ayah mereka untuk waktu yang lama. Sehingga disebutkan poligami selain melanggar hukum kodrat juga melanggar hak kodrati istri dan anak. Bila dikaitkan dengan 10 Perintah Allah dalam Perjanjian Lama, maka melanggar perintah terhadap perzinahan, pencurian, kesaksian palsu, dan mengingini sekaligus.

Itu juga melanggar hak alami istri (pertama) atas kesetiaan dan kepercayaan perkawinan, atas harta benda perkawinan dan keamanan materi yang berkelanjutan, dan terhadap harapan kontraktual dan ketergantungan pada kesetiaan suaminya pada kontrak pernikahan  (semua janji perkawinan dianggap sebagai ikrar suci atas kesetiaan, beberapa lagi saling penerimaan dalam untung dan malang (for better for worse), sakit maupun sehat dan sebagainya).

Jika pernikahan mensyaratkan bahwa seorang pria memberikan dirinya kepada seorang wanita dan seorang wanita memberikan dirinya kepada seorang pria, lalu apa yang tersisa untuk diberikan kepada wanita lain (orang ketiga)? Pria itu tidak akan tersedia kecuali sebagai pria palsu, ilusi kehadiran fisik dan bukan mental – spiritual yang lengkap bagi yang lain. Dalam hal ini perempuan akan diambil sebagai objek tetapi bukan sebagai subjek yang setara, sarana tetapi bukan tujuan dalam dirinya. Oleh karena itu poligami atau poligami anonim adalah kebohongan dan ketidakjujuran intelektual.

Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, maka saya (menyebutkan nama), dengan niat yang suci dan ikhlas hati telah memilihmu (menyebutkan nama pasangan) menjadi suami/istri saya. Saya berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku.

KOTENG

Sebenarnya Kuteng, alias kucing tetangga.

Koteng kucing blasteran dan bertubuh besar dari rata2. Dilihat dari jauh mirip kucing kampung biasa, dari dekat, istimewa.

Dia suka berkelahi, mungkin karena badannya lebih besar dari kaumnya. Dia juga tidak takut dengan gonggongan doggy yang blingsatan di dalam kandang  melihat Koteng melenggang cuek di depannya. Koteng cukup arogan, searogan kucing.

Koteng tidak akan menyerah dari pemangsanya, dia tidak akan diam2, namun  akan berjuang sampai akhir. Koteng memiliki cinta hidup yang kuat ketika dia sehat.

Kucing memang tidak membutuhkan filosofi, mungkin karena mereka sudah tahu cara hidup. Walau orang2 awam lain akan mengatakan alasan kucing tidak berfilsafat adalah karena mereka tidak memiliki kapasitas untuk berpikir abstrak.

Suatu kali, Koteng tiba2 muncul di pagar halaman dengan tubuh hitam berlumur lumpur. Ampuuun.

Koteng tidak mengeong. Dia hanya berdiri di pintu pagar seolah mau memberitahu kalau dia habis berkelahi dan jatuh ke dalam got, dan tubuhnya nyaris kaku dengan lumpur yang mengeras. Bahwa dia baik2 saja. Dasar Koteng.

Kami membujuknya untuk membersihkannya. Koteng memang pintar. Dia mengerti kalau lumpur itu harus dibersihkan dari tubuhnya supaya dia sehat dan bebas bergerak. Dan seseorang harus membersihkannya, karena pemiliknya tidak mau membersihkannya. Koteng kami bersihkan. Dan yang membuat trenyuh, dia menangis sesenggukan. Belum pernah saya mendengar seekor kucing menangis sesenggukan, hanya Koteng.

Para filsuf kucing seperti Montaigne dan Spinoza, pernah mengatakan, bahwa kucing memiliki sesuatu yang berguna untuk diceritakan kepada kita tentang kehidupan yang baik. Dan hari itu Koteng memberitahukannya. Kucing menjinakkan manusia dengan mengajarinya untuk mencintai mereka.

Kebenaran Nol

Nol itu menarik.

Para filsuf India kuno memiliki konsep bahwa nol, atau ketiadaan/kekosongan, tidak nol seperti yang terlihat, tetapi sebenarnya merupakan sumber inspirasi, penciptaan, keterlibatan, dan akhirnya kebahagiaan tanpa batas.

Di Asia Timur, konsep nol diekspresikan dengan karakter yang dibaca “Kuu” dalam Bahasa Jepang, yang berarti langit, kosong, atau kekosongan/ketiadaan. Tanda asli untuk nol, atau titik di bawah angka, juga disebut “sunya” — sebuah konsep dari filsafat India kuno untuk menggambarkan “kekosongan,” “kehampaan,” atau “langit.” Sementara nol matematika muncul sebagai elemen penting untuk memajukan sains di dunia modern.

Dalam agama Buddha, digunakan kata “engi” untuk menggambarkan konsep nol, untuk mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita rasakan ditetapkan hanya karena memiliki hubungan relatif dengan elemen atau faktor lain. Semua hal yang kita yakini ada, sebenarnya tidak ada, jika definisi “eksistensi” membutuhkan substansi yang dapat didefinisikan secara unik secara permanen. Karena semuanya terus berubah statusnya, tidak ada yang ada.

“Aku” hari ini satu hari lebih tua dari “aku” kemarin. Saya ada hanya karena lingkungan saya membentuk saya, tetapi setiap elemen yang membentuk lingkungan saya bisa ada karena kehadiran saya. Dan kita bersama-sama ada karena hubungan timbal balik. Inilah alasan mengapa semuanya “kosong (kuu).” Dan karena semuanya adalah kuu, mereka secara inheren bersifat sementara, dan karena mereka bersifat sementara, kata-kata dan pernyataan selalu bergantung. Dan di dalam kuu muncul netralitas yang solid.

Lalu bagaimana mempraktikkan konsep yang begitu rumit, ketika pada kenyataannya kita hidup di dunia di mana setiap orang memiliki perspektif “mutlak” mereka sendiri dan tidak ingin berkompromi? Keyakinannya berpusat pada nol, atau disebut (kuu) dalam bahasa Jepang, yang berarti mengakui segala sesuatu sebagai ketiadaan yang penuh potensi, sehingga mempunyai daya untuk merangkul siapa pun dari latar belakang apa pun. Kebebasan yang kemudian berani hadir, ketika perjalanan kehidupan dalam pikiran diseimbangkan dalam perjalanan kehidupan sebagai pengalaman saat ini.

Kaffee und Kuchen (Kopi dan Kue)

Apakah ada sesuatu yang khas tentang kemanusiaan yang membenarkan gagasan bahwa manusia memiliki status moral sedangkan non-manusia tidak?

Dalam Ceramah Tentang Etika, Kant menjelaskan bahwa kita memiliki kewajiban tidak langsung terhadap hewan. Kewajiban itu tidak ditujukan kepada mereka, tetapi berkenaan dengan mereka sejauh perlakuan kita terhadap mereka dapat mempengaruhi kewajiban kita terhadap orang.

Dia yang kejam terhadap hewan menjadi keras juga dalam berurusan dengan manusia. Tindakannya dapat menjadi tidak manusiawi dan merusak kemanusiaan yang menjadi kewajibannya.

(Seseorang meletakkan satu set kopi dilengkapi dengan roti panggang dan telur rebus)

Saya bukan benar2 penggemar kopi. Namun secangkir kopi sungguh dapat menawarkan momen keheningan di tengah hiruk pikuk hari.

(Kemudian seseorang mengantarkan yakimeshi, nasi goreng di atas nampan kecil)

Yakimeshi mengandalkan kecap, bukan minyak, dengan bawang putih dan jahe cincang.

Terimakasih untuk hewan dan tumbuhan yang menyerahkan hidup mereka untuk dimakan. Terimakasih kepada semua orang yang berperan dalam membawa makanan ke meja.

Voilà!

Itadakimasu!

Le Plus Beau des Trésors

Artinya harta karun terbesar, the greatest treasure. Harta karun atau treasure dalam Bahasa Inggris, berasal dari kata Perancis kuno, trésors, yang berarti sesuatu yang sangat berharga.

Dalam cerita kanak2 karangan Amit Garg, dengan judul yang sama, dikisahkan seorang anak bernama Peter yang hendak bertualang mencari harta karun.
Dalam perjalanannya dia mengajak seekor Singa, sehingga ketika melewati hutan yang lebat dan gelap, ditemani Singa yang kuat dan berani, Peter tidak merasa takut dan khawatir. Dia juga mengajak seekor Elang, sehingga ketika mendaki gunung yang tinggi dan terjal, dengan penglihatannya yang tajam, Elang membimbing setiap langkah yang mereka ambil hingga mencapai lembah dengan selamat. Peter juga menyelamatkan Singa yang sempat terpeleset.
Di lembah, mereka mengajak seekor Domba, sehingga ketika melewati padang rumput tak berujung, Domba dengan bulunya melindungi mereka dari angin di cuaca yang dingin, sehingga tetap hangat dan nyaman.
Ketika melintasi padang pasir yang luas mereka mengajak Sang Kapal Gurun, seekor Unta untuk bergabung, sehingga selamat.
Ketika mencapai lautan dengan ombak yang ganas, mereka mengajak Penyu (habitat utama penyu di air laut; kura2 di darat dan air tawar), yang membantu mereka menyeberang.
Sampai di seberang akhirnya mereka bertemu seekor burung Kakak Tua, yang dari fabel kuno terkenal karena kebijaksanaannya. Selamat! Sambut Sang Burung Kakak Tua. Kalian telah menemukan harta karun itu.
Mereka semua heran dan terkejut. Di mana itu? Tanya mereka tidak mengerti.
Sang Kakak Tua menjelaskan. Bersama-sama kalian telah melewati hutan, mendaki gunung, menantang lembah, menerjang gurun, menyeberangi lautan. Kalian tidak akan pernah melakukannya tanpa bantuan satu sama lain. Kalian telah menemukan persahabatan, itulah harta karunnya.
Mereka saling memandang dan menyadari bahwa burung Kakak Tua itu benar. Mereka telah menemukan harta terpendam itu, persahabatan, harta karun terbesar dalam hidup.

Itu pula yang dipromosikan Kwame Anthony Appiah, bekerja sama dengan Amy Guttmann, para filsuf moral dan politik zaman modern saat ini, filosofi kosmopolitanisme yang melampaui kebangsaan dan kewarganegaraan. Dalam filsafat Stoic, kosmopolitanisme ini disebut sebagai gagasan warga dunia, dimana polis, atau negara kota mencakup seluruh kosmos, atau seluruh dunia, sehingga ada nasihat untuk memperluas karakteristik cinta diri Stoic (oikeiōsis) dalam lingkaran yang semakin melebar dari diri sendiri ke keluarga, ke teman, dan akhirnya, ke umat manusia secara keseluruhan.
Kosmopolitanisme dalam teori politik sendiri adalah keyakinan bahwa semua orang berhak atas rasa hormat dan pertimbangan yang sama, tidak peduli apa status kewarganegaraan mereka atau afiliasi lainnya.
Mereka menggagaskan bahwa ras biologis adalah masalah konseptual, sehingga gagasan identitas kelompok seperti ras, agama, gender, dan seksualitas, merugikan individu dengan terlalu menyederhanakan identitas mereka dan membatasi kebebasan mereka. Istilah ras tidak memiliki dasar biologis yang sah, sejarah penemuannya sebagai kategori sosial menunjukkan bagaimana konsep tersebut telah digunakan untuk menjelaskan perbedaan di antara kelompok orang dengan secara keliru menghubungkan berbagai esensi kepada mereka.

Seperti halnya gambaran dari Santo Paulus, Rasul, bahwa tidak ada orang Yahudi atau Yunani, bebas atau budak, laki-laki atau perempuan. Kita masing-masing adalah seniman yang seharusnya menyadari dunia kita sendiri dan mengundang orang lain untuk berbagi di dalamnya, tentu saja dengan prinsip kebebasan dan saling menghargai.
Pasal 27 Konvensi Jenewa dan Resolusi 1820 termasuk mengatur perlindungan terhadap kejahatan terhadap kemanusiaan, yang menggunakan kekerasan untuk mempermalukan, mendominasi, menanamkan rasa takut pada anggota masyarakat sipil manapun.
Kosmopolitanisme sebagai tesis tentang identitas juga menyangkal bahwa keanggotaan dalam komunitas budaya tertentu diperlukan bagi seorang individu untuk berkembang di dunia. Menurut pandangan itu, menjadi bagian dari budaya tertentu bukanlah unsur penting dalam pembentukan atau pemeliharaan identitas seseorang, dan seseorang dapat memilih dari berbagai ekspresi budaya atau menolak semua ekspresi tersebut demi pilihan nonkultural lainnya.
Singkatnya kita diarahkan untuk melakukan pemeriksaan kritis atas dasar kepercayaan, prasangka, tradisi dan keyakinan kita sendiri. Dan di atas semua itu, kita percaya Tuhan merancang kita untuk tertarik pada kebajikan, kekudusan, dan kelembutan.

JOHN

Injil Yohanes ditulis Rasul Yohanes, Putra Zebedeus. Kesimpulan ini didapat dari bab terakhir Injil Yohanes, Ketika penulisnya secara eksplisit menyatakan bahwa ‘murid yang dikasihi Yesus’ adalah penulisnya (Yoh 21: 20-24)
Irenaeus, bapa gereja mula2 juga membahas dan meng-identifikasi Rasul Yohanes sebagai penulisnya: “Yohanes, murid Tuhan, yang juga telah bersandar di dada-Nya (dan) menerbitkan Injil sendiri selama kediamannya di Efesus di Asia..”
Eusebius dari Kaisarea, bapak sejarah gereja, juga mengutip dari Clement dari Alexandria: “….Tetapi Yohanes, yang terakhir dari semuanya, melihat bahwa apa yang bersifat jasmani dinyatakan dalam Injil, karenanya atas permintaan teman2 dekatnya, dan diilhami oleh Roh, menyusun sebuah Injil rohani.”

Konon bila hendak lebih menelusuri Cinta Allah, bacalah Injil Yohanes, Anak Allah yang menjadi manusia, untuk memampukan manusia menjadi anak2 Allah. Dia yang melampaui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia yang telah ada, selalu ada, dan akan selalu ada, Tuhan. Yohanes menelusuri ‘nenek moyang’ Yesus sampai kepada Allah Bapa yang kekal (Lukas menelusurinya sampai kepada Adam, Matius sampai kepada Abraham),- pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama2 dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1)

Dia sungguh mengasihi Yesus, dia memperhatikan penyataan kemesiasan-Nya, yang orang2 lain tidak melakukannya, sehingga secara paradoks menyebutkan dirinya sebagai murid yang dikasihi Yesus. Seperti halnya Ketika kita dekat dan mengasihi-Nya, kita pun tahu Dia mengasihi kita, dan menerima rahmat-Nya. Seperti Yohanes, itupun yang kita rasakan ketika mengasihi Dia, bahwa Dia mengasihi kita (makna nama Yohanes pun: graced by God), dan kita yang mengasihi-Nya semakin menyerupai-Nya, Imago Dei, dan Imitation of Christ.

ALBERT CAMUS

Dia adalah pahlawan absurd. Orang yang benar2 tahu bahwa hidup itu absurd, namun melewatinya dengan senyuman. Masalah yang dia geluti sederhana. Hidup itu absurd, titik.

Mengapa? Karena manusia dipenuhi dengan kerinduan akan kebahagiaan dan alasannya, namun alam tidak menyediakannya. Dimana2 dipenuhi oleh alam semesta yang tidak peduli, dalam bentuk yang tidak masuk akal. Alam semesta itu dingin dan acuh tak acuh. Jadi manusia harus terus berjuang dan bergulat dalam ketidakharmonisan pencarian makna, karena alam semesta berjalan sendiri. Manusia mencari makna dalam dunia ketidakbermaknaan.

Namun sekalipun demikian, hidup tetap layak untuk dijalani.

Ternyata dia menemukan ketenangannya itu dalam absurditas sepak bola. Sepak bola memang menjadi impiannya sedari kanak2. Semasa kecilnya, neneknya suka memarahinya karena bermain sepak bola, dikarenakan beresiko merusak sepatu sekolahnya, yang merupakan pengeluaran besar bagi keluarganya yang sederhana. Hingga remaja dia terobsesi dengan sepak bola, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menendang kaleng di jalan. Namun kemudian penyakit TBC (tuberculosis) telah merenggut mimpinya dan mengakhiri harapan apapun yang mungkin dimilikinya untuk serius bermain sepak bola.

Ketika diwawancarai sebagai penerima hadiah nobel dalam sastra-pun, bukan dalam ruang studio yang nyaman,  namun duduk di stadion Parc des Princes, di antara kerumunan 35.000 orang, yang menonton Racing Club de Paris menjamu Monaco, dalam permainan sepak bola. Dan pertanyaan yang diajukan? Tentang kesalahan kiper yang bereaksi lambat terhadap umpan silang yang dibelokkan, membiarkan bola menggelinding dan…gol.

Sepak bola tetap menjadi kesenangannya. Lapangan sepak bola telah menjadi universitasnya yang kedua, setelah teater. Dia menemukan bentuk kesadarannya yang paling kuat dan berharga di sana. Kesadaran tentang apa? Absurditas. Bayangkan. 22 pemain terengah2 mengejar sebuah bola yang bergelinding, kadang melambung, di sekitar lapangan berumput, serta percaya, bila bola melintasi garis maka hal itu menjadi masalah serius/penting. Konyol. Absurd.

Namun dari permainan sepak bola, dia mendapat nilai2 tentang tidak mementingkan diri sendiri, kerja sama, keberanian, dan ketahanan. Camus ingin berada di dunia. Menghadapinya dengan jujur tanpa menyerah pada keputus-asaan atau delusi, namun penuh kreativitas pribadi. Dia menikmati pengalaman hidup.

Lalu bagaimana dengan wabah? Ah, itu hanya hidup. Tidak lebih dari itu. Berbesar hatilah untuk mengetahui bahwa perjuanganlah yang harus diperhitungkan. Itu katanya. Accept failures the same way we accept our achievement. Never back down till we fulfill our potential. Kira2 demikian.

Jadi hadapi kenyataan dalam perspektif pikiran yang berbeda! Hadapi dengan senyum!

Albert Camus pernah menulis, jika dia menulis sebuah buku tentang moralitas, maka buku itu akan memiliki 100 halaman, dengan 99 halamannya akan kosong. Sedang yang 1 halaman tentang tugas mencintai. Itu sajalah pilihan sadar untuk melihat dunia dengan segala kenyataannya.

Itu pencerahan untuk melihat sesuatu!!!

Riddle(s) of The Sphinx

Teka – teki Sphinx, salah satunya yang terkenal:

“Apa yang selalu datang, namun tidak pernah benar2 tiba?”

“Hari Esok.”

Konon Sphinx yang berwajah manusia, bertubuh singa dengan sayap burung, akan melahap siapapun yang tidak mampu memecahkan dan menjawab teka-tekinya.

Sphinx sangat cerdas. Menyukai teka teki, dan mampu berbicara seperti manusia. Dalam film Harry Potter, Sphinx ditugaskan untuk menjaga barang2 berharga oleh para penyihir. Namun Kementrian Sihir ketika mengkategorikannya, Sphinx tetap ditempatkan dalam kategori binatang, dikarenakan kecenderungan kekerasan yang ada padanya.

Di kalangan manusiapun, ketertarikan publik terhadap kekerasan telah didokumentasikan dengan baik sepanjang sejarah. Dan dari beberapa penelitian Ilmu Saraf menunjukkan bahwa melihat agresi akan meng-aktifkan daerah otak yang bertanggungjawab untuk mengatur emosi, termasuk agresi, dan kegagalan memahami penderitaan orang lain.

Singkatnya, akan membangun ‘naskah perilaku’ yang agresif.

Kekerasan dalam berbagai bentuknya dapat mempengaruhi kesehatan (fisik dan psikis) orang-orang yang menjadi sasaran, pelaku, dan masyarakat dimana keduanya tinggal.

Di dunia dimana kekerasan dan kekejaman tampak biasa dan hampir dapat diterima, kita menjadi bertanya2 apa yang dapat dilakukan individu dan masyarakat untuk menciptakan dunia yang lebih baik, yang lebih mengembangkan rasa kepedulian dan kasih sayang alih2 tindak kekerasan.

Masalah kita bukanlah pada kekurangan kekuatan, namun karena kita menggunakan kekuatan kita dengan cara yang buruk.

Saatnya kita berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional kita, baik secara individu maupun sebagai masyarakat. Jelajahi nilai2 etika dan pribadi. Tumbuhkan belas kasih dan rasa tanggungjawab sosial. Berpalinglah dari kekerasan, dan menjadi warga negara bumi yang lebih terhormat dan bermartabat (luhur).

Biarkan hari esok alam semesta memuat dan terjalin dari banyak cerita indah, bukan hanya terdiri dari atom2 yang dingin dan bergerak chaos. Berjanjilah.

Teka teki selanjutnya: What can you keep after giving to someone?

Your word.

ATOM dan KEBAHAGIAAN

Apakah mempelajari filsafat dapat membuat bahagia? Konon bisa.

Tetapi apakah kita, sebagai individu, akan benar-benar bahagia? Kemungkinan besar tidak.

Seperti apa kebahagiaan itu? Tidak mudah menentukan apa yang otak dan tubuh kita alami sebagai kebahagiaan. Bila kebahagiaan adalah pengalaman biokimiawi yang dipicu neurotransmitter, maka terkait bahan2 kimia seperti Serotonin, Dopamin, Oksitosin, Endorfin.

Dalam filsafat ada Democritus, filsuf tertawa, dengan kepribadiannya yang konon ceria. Seorang pria yang ingin tahu, dan berusaha memahami orang dan dunia. Dia lebih terkenal karena teori atomnya.

Bukan kebetulan bahwa filsuf tertawa selalu ceria. Thich Nhat Hanh, mengungkapkannya secara sederhana: “Terkadang kegembiraanmu adalah sumber senyummu, tapi terkadang senyummu bisa menjadi sumber kegembiraanmu.”

Dia tahu kebahagiaan batin selalu terpancar ke luar. Apakah Anda ingat kapan terakhir kali anda merasa ceria? Apakah Anda membutuhkan alasan untuk tersenyum?

Orang yang ceria tersenyum dengan mudah. Dengan tersenyum, suasana hati yang buruk mulai menghilang. Konon itu adalah kekuatan sebuah senyuman, yaitu dapat meningkatkan suasana hati anda dengan mengeluarkan hormon menuju perasaan yang lebih baik. Tersenyum benar-benar dapat membuat orang merasa lebih bahagia, ekspresi wajah memberi dampak pada perasaan kita.

Tersenyumlah! Anda terlihat manis kalau tersenyum. 😊

Create your website with WordPress.com
Get started