JOHN

Injil Yohanes ditulis Rasul Yohanes, Putra Zebedeus. Kesimpulan ini didapat dari bab terakhir Injil Yohanes, Ketika penulisnya secara eksplisit menyatakan bahwa ‘murid yang dikasihi Yesus’ adalah penulisnya (Yoh 21: 20-24)
Irenaeus, bapa gereja mula2 juga membahas dan meng-identifikasi Rasul Yohanes sebagai penulisnya: “Yohanes, murid Tuhan, yang juga telah bersandar di dada-Nya (dan) menerbitkan Injil sendiri selama kediamannya di Efesus di Asia..”
Eusebius dari Kaisarea, bapak sejarah gereja, juga mengutip dari Clement dari Alexandria: “….Tetapi Yohanes, yang terakhir dari semuanya, melihat bahwa apa yang bersifat jasmani dinyatakan dalam Injil, karenanya atas permintaan teman2 dekatnya, dan diilhami oleh Roh, menyusun sebuah Injil rohani.”

Konon bila hendak lebih menelusuri Cinta Allah, bacalah Injil Yohanes, Anak Allah yang menjadi manusia, untuk memampukan manusia menjadi anak2 Allah. Dia yang melampaui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dia yang telah ada, selalu ada, dan akan selalu ada, Tuhan. Yohanes menelusuri ‘nenek moyang’ Yesus sampai kepada Allah Bapa yang kekal (Lukas menelusurinya sampai kepada Adam, Matius sampai kepada Abraham),- pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama2 dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah (Yoh 1:1)

Dia sungguh mengasihi Yesus, dia memperhatikan penyataan kemesiasan-Nya, yang orang2 lain tidak melakukannya, sehingga secara paradoks menyebutkan dirinya sebagai murid yang dikasihi Yesus. Seperti halnya Ketika kita dekat dan mengasihi-Nya, kita pun tahu Dia mengasihi kita, dan menerima rahmat-Nya. Seperti Yohanes, itupun yang kita rasakan ketika mengasihi Dia, bahwa Dia mengasihi kita (makna nama Yohanes pun: graced by God), dan kita yang mengasihi-Nya semakin menyerupai-Nya, Imago Dei, dan Imitation of Christ.

ALBERT CAMUS

Dia adalah pahlawan absurd. Orang yang benar2 tahu bahwa hidup itu absurd, namun melewatinya dengan senyuman. Masalah yang dia geluti sederhana. Hidup itu absurd, titik.

Mengapa? Karena manusia dipenuhi dengan kerinduan akan kebahagiaan dan alasannya, namun alam tidak menyediakannya. Dimana2 dipenuhi oleh alam semesta yang tidak peduli, dalam bentuk yang tidak masuk akal. Alam semesta itu dingin dan acuh tak acuh. Jadi manusia harus terus berjuang dan bergulat dalam ketidakharmonisan pencarian makna, karena alam semesta berjalan sendiri. Manusia mencari makna dalam dunia ketidakbermaknaan.

Namun sekalipun demikian, hidup tetap layak untuk dijalani.

Ternyata dia menemukan ketenangannya itu dalam absurditas sepak bola. Sepak bola memang menjadi impiannya sedari kanak2. Semasa kecilnya, neneknya suka memarahinya karena bermain sepak bola, dikarenakan beresiko merusak sepatu sekolahnya, yang merupakan pengeluaran besar bagi keluarganya yang sederhana. Hingga remaja dia terobsesi dengan sepak bola, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menendang kaleng di jalan. Namun kemudian penyakit TBC (tuberculosis) telah merenggut mimpinya dan mengakhiri harapan apapun yang mungkin dimilikinya untuk serius bermain sepak bola.

Ketika diwawancarai sebagai penerima hadiah nobel dalam sastra-pun, bukan dalam ruang studio yang nyaman,  namun duduk di stadion Parc des Princes, di antara kerumunan 35.000 orang, yang menonton Racing Club de Paris menjamu Monaco, dalam permainan sepak bola. Dan pertanyaan yang diajukan? Tentang kesalahan kiper yang bereaksi lambat terhadap umpan silang yang dibelokkan, membiarkan bola menggelinding dan…gol.

Sepak bola tetap menjadi kesenangannya. Lapangan sepak bola telah menjadi universitasnya yang kedua, setelah teater. Dia menemukan bentuk kesadarannya yang paling kuat dan berharga di sana. Kesadaran tentang apa? Absurditas. Bayangkan. 22 pemain terengah2 mengejar sebuah bola yang bergelinding, kadang melambung, di sekitar lapangan berumput, serta percaya, bila bola melintasi garis maka hal itu menjadi masalah serius/penting. Konyol. Absurd.

Namun dari permainan sepak bola, dia mendapat nilai2 tentang tidak mementingkan diri sendiri, kerja sama, keberanian, dan ketahanan. Camus ingin berada di dunia. Menghadapinya dengan jujur tanpa menyerah pada keputus-asaan atau delusi, namun penuh kreativitas pribadi. Dia menikmati pengalaman hidup.

Lalu bagaimana dengan wabah? Ah, itu hanya hidup. Tidak lebih dari itu. Berbesar hatilah untuk mengetahui bahwa perjuanganlah yang harus diperhitungkan. Itu katanya. Accept failures the same way we accept our achievement. Never back down till we fulfill our potential. Kira2 demikian.

Jadi hadapi kenyataan dalam perspektif pikiran yang berbeda! Hadapi dengan senyum!

Albert Camus pernah menulis, jika dia menulis sebuah buku tentang moralitas, maka buku itu akan memiliki 100 halaman, dengan 99 halamannya akan kosong. Sedang yang 1 halaman tentang tugas mencintai. Itu sajalah pilihan sadar untuk melihat dunia dengan segala kenyataannya.

Itu pencerahan untuk melihat sesuatu!!!

Riddle(s) of The Sphinx

Teka – teki Sphinx, salah satunya yang terkenal:

“Apa yang selalu datang, namun tidak pernah benar2 tiba?”

“Hari Esok.”

Konon Sphinx yang berwajah manusia, bertubuh singa dengan sayap burung, akan melahap siapapun yang tidak mampu memecahkan dan menjawab teka-tekinya.

Sphinx sangat cerdas. Menyukai teka teki, dan mampu berbicara seperti manusia. Dalam film Harry Potter, Sphinx ditugaskan untuk menjaga barang2 berharga oleh para penyihir. Namun Kementrian Sihir ketika mengkategorikannya, Sphinx tetap ditempatkan dalam kategori binatang, dikarenakan kecenderungan kekerasan yang ada padanya.

Di kalangan manusiapun, ketertarikan publik terhadap kekerasan telah didokumentasikan dengan baik sepanjang sejarah. Dan dari beberapa penelitian Ilmu Saraf menunjukkan bahwa melihat agresi akan meng-aktifkan daerah otak yang bertanggungjawab untuk mengatur emosi, termasuk agresi, dan kegagalan memahami penderitaan orang lain.

Singkatnya, akan membangun ‘naskah perilaku’ yang agresif.

Kekerasan dalam berbagai bentuknya dapat mempengaruhi kesehatan (fisik dan psikis) orang-orang yang menjadi sasaran, pelaku, dan masyarakat dimana keduanya tinggal.

Di dunia dimana kekerasan dan kekejaman tampak biasa dan hampir dapat diterima, kita menjadi bertanya2 apa yang dapat dilakukan individu dan masyarakat untuk menciptakan dunia yang lebih baik, yang lebih mengembangkan rasa kepedulian dan kasih sayang alih2 tindak kekerasan.

Masalah kita bukanlah pada kekurangan kekuatan, namun karena kita menggunakan kekuatan kita dengan cara yang buruk.

Saatnya kita berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional kita, baik secara individu maupun sebagai masyarakat. Jelajahi nilai2 etika dan pribadi. Tumbuhkan belas kasih dan rasa tanggungjawab sosial. Berpalinglah dari kekerasan, dan menjadi warga negara bumi yang lebih terhormat dan bermartabat (luhur).

Biarkan hari esok alam semesta memuat dan terjalin dari banyak cerita indah, bukan hanya terdiri dari atom2 yang dingin dan bergerak chaos. Berjanjilah.

Teka teki selanjutnya: What can you keep after giving to someone?

Your word.

ATOM dan KEBAHAGIAAN

Apakah mempelajari filsafat dapat membuat bahagia? Konon bisa.

Tetapi apakah kita, sebagai individu, akan benar-benar bahagia? Kemungkinan besar tidak.

Seperti apa kebahagiaan itu? Tidak mudah menentukan apa yang otak dan tubuh kita alami sebagai kebahagiaan. Bila kebahagiaan adalah pengalaman biokimiawi yang dipicu neurotransmitter, maka terkait bahan2 kimia seperti Serotonin, Dopamin, Oksitosin, Endorfin.

Dalam filsafat ada Democritus, filsuf tertawa, dengan kepribadiannya yang konon ceria. Seorang pria yang ingin tahu, dan berusaha memahami orang dan dunia. Dia lebih terkenal karena teori atomnya.

Bukan kebetulan bahwa filsuf tertawa selalu ceria. Thich Nhat Hanh, mengungkapkannya secara sederhana: “Terkadang kegembiraanmu adalah sumber senyummu, tapi terkadang senyummu bisa menjadi sumber kegembiraanmu.”

Dia tahu kebahagiaan batin selalu terpancar ke luar. Apakah Anda ingat kapan terakhir kali anda merasa ceria? Apakah Anda membutuhkan alasan untuk tersenyum?

Orang yang ceria tersenyum dengan mudah. Dengan tersenyum, suasana hati yang buruk mulai menghilang. Konon itu adalah kekuatan sebuah senyuman, yaitu dapat meningkatkan suasana hati anda dengan mengeluarkan hormon menuju perasaan yang lebih baik. Tersenyum benar-benar dapat membuat orang merasa lebih bahagia, ekspresi wajah memberi dampak pada perasaan kita.

Tersenyumlah! Anda terlihat manis kalau tersenyum. 😊

MENEMUKAN TUHAN DALAM SEGALA

Ini adalah masa2 yang aneh. Hal ini bukan hanya mengacu pada pandemi virus corona, namun juga pada keadaan peradaban seperti yang terungkap dalam fenomena global ini. Dan sebagai makhluk berakal budi, manusia pun seharusnya membuka cakrawala makna dan pemahaman baru.

Masuk (gedung) gereja bukan lagi suatu hal yang mudah. Jadi teringat pada tokoh orang gila -nya dalam novel filosofis Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra. Orang gila ini konotasinya adalah orang bodoh yang diizinkan untuk mengatakan kebenaran. Pada bagian akhir, orang gila ini datang ke gereja untuk menyanyikan  “Requiem Aeternam Deo” dan bertanya: “Bagaimana dengan gereja-gereja ini sekarang jika mereka bukan makam dan makam Tuhan?”

Sebuah permainan untuk semua orang dan tidak ada orang. Akankah manusia cukup matang untuk menyaksikan kesengsaraan-Nya di mata telanjang Zarathustra?

Jika kekosongan gereja mengingatkan pada kuburan yang kosong, ada juga kalimat – kalimat dalam Injil Markus, “Ia telah bangkit. ..” “Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia…”.

Di mana Galilea hari ini, di mana kita dapat bertemu dengan Kristus yang hidup?

St Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus, mengusulkan sebuah peta jalan, semacam visi hidup. Semua realitas yang diciptakan dapat menuntun seseorang untuk mengenal Tuhan. Sebagai akibatnya, merupakan hak istimewa dan tanggung jawab untuk membuat pilihan baik menggunakan atau menahan diri dari menggunakan benda-benda ciptaan untuk membantu kita mencapai tujuan kita. Akhirnya, motivasi di balik pilihan apa pun haruslah bahwa seseorang menginginkan dan memilih apa yang lebih langsung mengarah kepada Tuhan.

Saatnya tiba, bagi kita melepas sepatu dan merasakan bumi.

Filsafat dan Perdamaian

Konon perang/ketiadaan perdamaian adalah sebagai representasi ketiadaan filsafat.

Mengapa? Karena dalam perang atau ketiadaan perdamaian, diasumsikan satu orang atau suatu kelompok itu sendiri saja lah yang memiliki kebenaran, dan bahwa pandangan individu atau kelompok itu lalu harus dipaksakan, jika perlu, dengan kekerasan. Perang atau ketiadaan perdamaian di sini pada akhirnya akan melibatkan penghancuran diri, orang lain dan masyarakat.

Dengan kata lain, tidak adanya filsafat, mewakili tidak adanya cinta kebijaksanaan.

Filsafat mengajak kita untuk tidak berasumsi bahwa satu orang atau suatu kelompok dengan sendirinya memiliki kebenaran secara unik atau mutlak, melainkan jalan menuju kebenaran adalah melalui proses bertanya, kadang disebut dialektika. Oleh karena itu, filsafat pada hakikatnya adalah atau harus menjadi usaha yang toleran, dan juga merupakan usaha yang melibatkan atau harus melibatkan perdebatan dan diskusi.

Filsafat dengan demikian menyajikan template untuk masyarakat yang damai, di mana sudut pandang yang berbeda dipertimbangkan dan dieksplorasi, dan yang, melalui cinta kebijaksanaan, mendorong pemikiran dan penjelajahan tentang masa depan yang positif dan meningkatkan kehidupan.

Ini berarti bahwa terlibat dalam filsafat mungkin merupakan awal yang berguna untuk masa depan yang damai. Mari berfilsafat, sebagai ujud cinta untuk dunia dan masa depan, penghormatan terhadap kehidupan.

Dia Mengerti

Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah

Tuhan tak pernah berdusta
Dia slalu pegang janjiNYA
Bagi orang percaya
Mukjizat nyata

Reff:
Dia Mengerti
Dia perduli
Persoalan yang sedang terjadi

Dia Mengerti
Dia perduli
Persoalan yang kita alami
Namun satu yang Dia minta
Agar kita percaya sampai mukjizat menjadi nyata

Tuhan mengerti

SENTUH HATIKU

Betapa ku mencintai
Segala yang t’lah terjadi
Tak pernah sendiri jalani hidup ini
Selalu menyertai

Betapa ku menyadari
Di dalam hidupku ini
Kau selalu memberi rancangan terbaik
Oleh karena kasih

Bapa, sentuh hatiku
Ubah hidupku menjadi yang baru
Bagai emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku

Bapa, ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti

Kasih-Mu ya Tuhan tak pernah berhenti

MENYAPA SEMAR

Semar adalah tokoh istimewa  dalam pertunjukan wayang purwo/kulit, digambarkan sebagai penyampai pesan yang bijaksana nan sakti.  Sifat kearifan dan kesucian pandangannya yang murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan memungkinkannya menangkap kebenaran apa adanya. Dalam sosok Semar juga tergambar semua aspek alam manusia, – maskulin feminin – tua muda – tawa tangis – bahagia dan sedih -.

Ternyata senjata pamungkasnya adalah kentut. Senjata yang sering digunakan saat Semar terdesak. Siapapun yang terkena kentut Semar, konon pasti kalah dan akan kembali ke jalan yang benar. Musuh yang menghirup kentutnya hanya pingsan, tidak mati, makanya masih sempat sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkin saja, karena asal usul Semar dari telur, maka senjata pamungkasnya kentut. Telur mengandung metionin, yang mengandung sulfur di dalamnya. Pada beberapa orang yang alergi, mengkonsumsi telur dapat membuat perut kembung dan mengeluarkan gas berupa kentut yang berbau busuk. Nah apalagi kalau asal usulnya bahkan dari telur sendiri.

Keseluruhan diri Semar sungguh kontroversial. Menyimak Semar, mengajak kita memikirkan kembali keburukan. Keburukan selama ini sering diasosiasikan dengan serangkaian istilah negatif, – ketidaksempurnaan, ketidakberartian, kegagalan, ketidakberadaan, beberapa ujungnya bahkan dikaitkan dengan kejahatan. Apakah keburukan ada karena ketiadaan keindahan? Bisakah kita menyebut keindahan sebagai ketiadaan keburukan? Dalam sosok Semar, maka keburukan seolah tidak benar2 ada. Seperti keindahan, keburukan menjadi konsep yang relatif.

Di Amerika pernah ada yang disebut Uglydolls dengan pengumuman di halaman web-nya bahwa ‘di alam semesta Uglydoll “jelek” berarti unik dan berbeda’, sebuah terobosan teoritis dalam kehidupan kontemporer, tentang meng-identifikasi dan menilai sesuatu sebagai jelek. Keburukan ternyata bukanlah sekadar alam maupun budaya, tidak murni dalam pikiran atau di dunia, bukan pula fakta yang kuat atau penilaian tanpa dasar. Posisinya kira2 di antara ide dan realitas yang merupakan kepentingannya. ‘Saya jelek karena anda membenci saya’. Inilah psikologis tentang keburukan. Cobalah bertanya pada kodok apa itu keindahan? Maka dia akan menjawab bahwa keindahan itu pada istri kodoknya.

Dapatkah keindahan dan keburukan hidup berdampingan? Dalam diri Ki Lurah Semar ternyata bisa.

Lakon wayang seringkali menggambarkan problema kehidupan manusia, setiap lakon sarat akan makna. Sifat2 manusia yang kompleks muncul dalam setiap tokoh yang berperan. Sapa nandur bakal ngunduh, siapa yang menanam akan menuai. Apa yang dilakukan memiliki konsekuensi dalam hidup masing2. Setiap orang selalu memiliki pilihan hidup, sekalipun keadaan terkadang tidak berpihak. Menjadi korban dari sebuah keadaan bukan merupakan alasan untuk menyerah dalam sebuah pertempuran hidup dan melupakan tujuan yang hendak diraih. Peristiwa2 menjadi kesempatan untuk mengasah diri dan membuktikan bahwa kita tetap mampu berdiri dan menjadi manusia mulia, meski keadaan terus menghimpit. Itulah hakekat sebagai manusia, makhluk mulia ciptaan Allah.

TEATER PIKIRAN (BELAJAR HAIKU)

#a well – planned space

the sights and the sounds alive

your words on paper

#story from your heart

nothing is more powerful

brings me full circle

#from the beginning

a hightly fragrant garden

a place in my heart

#this year is a time

an array of floral scents

for me to notice

#i hope you are well

like the mountains in springtime

been there all along

Create your website with WordPress.com
Get started