si JADUL

Ada tradisi jadul perihal pengelompokan godaan dalam 3 kategori: harta, tahta, dan wanita. Ungkapan jadul ini masih sering juga dinostalgiakan kaum jadul dari tradisi jadul.

Syukurlah Yesus sendiri tidak meng-kategorikannya dalam 3 golongan ini. Bisa dimaklumi. Yesus tentunya lebih paham dan bijaksana. Karena bagaimanapun “Sang Pencipta” tentunya menyayangi semua “makhluk2 ciptaan-Nya” dan tidak membeda2kannya.

Manusia yang diposisikan sebagai pemelihara ciptaan ini, dikondisikan dapat jatuh pada sikap koruptif akan kemampuannya, yang akhirnya membawa manusia kepada egoisme (lompatan spektakuler / kekuatan), materialisme (kerajaan / kekayaan) dan hedonisme (lapar / kepuasan).
Inilah sesungguhnya pencobaan yang dialami oleh Yesus di Padang Gurun, “keangkuhan hidup”, “keinginan mata” dan “keinginan daging”.

Iblis menggoda Yesus dengan pencobaan perut, dengan memerintahkan Yesus mengubah batu – batu menjadi roti, namun Yesus menolaknya.
Iblis lalu menggoda Yesus dengan pencobaan jiwa, dengan menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya ke bawah, dan ditolak.
Iblis juga menggoda Yesus dengan menyerang tingkat roh agar Yesus menyembah Iblis dengan iming – iming kerajaan dunia dan kemegahannya. Tentu saja ditolak.

Pandangan jadul ini juga dianut Filsuf. Aristoteles misalnya. Pandangannya tentang wanita banyak mempengaruhi pemikiran yang mempengaruhi sejarah dan negativitas terhadap wanita. Aristoteles melihat wanita sebagai subjek laki-laki, walau lebih tinggi dari budak. Aristoteles percaya bahwa wanita lebih rendah daripada pria, karenanya cenderung suka mengurangi peran perempuan dalam masyarakat, dan mempromosikan gagasan bahwa perempuan harus menerima lebih sedikit makanan dan gizi daripada laki-laki.

Syukurlah Gurunya, Plato lebih terbuka untuk potensi kesetaraan laki-laki dan perempuan, dengan menyatakan bahwa perempuan barangkali tidak sama dengan laki-laki dalam hal kekuatan, tetapi setara dengan laki-laki dalam hal kapasitas rasional dan pekerjaan, karenanya di Republik yang ideal, keduanya harus dididik dan diizinkan untuk bekerja bersama.

Susanna Siegel, seorang Filsuf Amerika, mengajukan pikirannya terkait persepsi, dengan mengajukan pemikiran bahwa persepsi pun dapat dihasilkan dari halusinasi yang berbeda dari pengalaman visual standar, suatu masalah pengalaman yang dibajak. Argumen Siegel bahwa rasionalitas persepsi terkadang dihasilkan sebagai pertahanan konstruktif (keadaan / proses mental), bukan pengalaman perseptual rasional, namun sebagai proses mental yang melibatkan respons terhadap beberapa keadaan informasi (keyakinan/ anggapan/pengalaman/kontribusi lain (eg.bias implisit, prasangka, fenomena persepsi) yang menghasilkan kesimpulan, pembenaran, atau ketidakberdayaan, atau bisa juga gagasan baru dari pengalaman terkait keyakinan.

Banyak peneliti mengklaim bahwa hasil menunjukkan bahwa informasi yang disimpan mempengaruhi pengalaman persepsi, meskipun beberapa berpendapat bahwa itu hanya mempengaruhi penilaian.
Jadi pengalaman persepsi dapat dipengaruhi / dihasilkan dari kesimpulan dari informasi yang tersimpan.

Kita ditantang untuk kembali menjadi agen rasional, dengan mempertanyakan apakah struktur dan sistem persepsi kita (rasionalitas persepsi) memiliki arsitektur kognitif seperti itu (dari pertahanan konstruktif). Siegel menyebutkan faktor yang terkait dengan kepercayaan, ketakutan, keinginan, kecurigaan, atau prasangka yang mempengaruhi apa yang kita rasakan. Juga budaya, ingatan, pengetahuan, konsep, dan bahasa. Selain pikiran, tekanan, dan politik tentunya. Suatu realis naif.

Saatnya meng-evaluasi transisi yang membentuk keyakinan (individu).
Misalnya dalam memahami sifat-sifat baik sesuatu, Siegel mengemukakan akan terasa perbedaannya dalam kasus di mana seseorang melihat pohon pinus tanpa dapat membedakannya dari jenis pohon lain, dan kasus di mana seseorang telah memperoleh kapasitas untuk mengenali pohon pinus dan dapat dengan mudah membedakannya, atau mereka dari varietas lain. Dia mengklaim bahwa ada perbedaan fenomenal yang jelas secara intuitif antara dua kasus, yaitu, bahwa ada perbedaan antara bagaimana rasanya melihat pohon dari jenis yang dikenali dan bagaimana rasanya melihat pohon yang sama ketika jenisnya tidak dikenal. Sama ketika mempersepsi makna sosok wanita, dalam kasus melihat ibu (terkecuali dalam peran ibu antagonis) atau wanita asing.

Plautus, dalam Adagia Erasmus, menyinggung sebuah variasi pada peribahasa dalam: Lupus est homō hominī, nōn homō, quom quālis sit nōn nōvit (“Bagi manusia, manusia bukanlah manusia tetapi serigala ketika dia tidak tahu seperti apa yang lain”). Semoga kita tidak. Amin

Nightbirde – It’s Okay

I moved to California in the summertime
I changed my name thinking that it would change my mind
I thought that all my problems they would stay behind
I was a stick of dynamite and it just was A matter of time, yeah

Oh, dang, oh, my,
now I can’t hide
Said I knew myself but I guess I lied
It’s okay, it’s okay
it’s okay, it’s okay
If you’re lost
We’re all a little lost
and it’s all right
It’s okay, it’s okay
it’s okay, it’s okay
If you’re lost
We’re all a little lost and it’s all right
It’s all right
it’s all right
It’s all right

I wrote a hundred pages, but I burned them all
Yeah, I burned them all
I blow through yellow lights and don’t look back at all
I don’t look back at all

Oh, dang, oh, my,
now I can’t hide
Said I knew myself but I guess I lied
It’s okay, it’s okay
it’s okay, it’s okay
If you’re lost
We’re all a little lost
and it’s all right
It’s okay, it’s okay
it’s okay, it’s okay
If you’re lost
We’re all a little lost and it’s all right
it’s all right to be lost sometimes

THE WAY

Tidak keliru bila ada yang mengatakan bahwa berbagai jenis penderitaan berlimpah di dunia tempat kita hidup. Dari berita2pun banyak yang berbicara tentang prevalensi penderitaan. Beberapanya banyak terjadi akibat pilihan keliru manusia. Nietzsche mempunyai istilahnya sendiri dalam ‘Thus Spake Zarathustra’, “suram adalah kehidupan manusia, dan tidak berarti; badut mungkin akan menjadi takdirnya.”

Kehidupan, sengsara, dan kebangkitan Yesus Kristus memberi petunjuk dan perspektif baru mengenai cara memaknai penderitaan. Naturally, penderitaan dari dulu ada. Dalam menghadapi penderitaan manusia, daripada bertanya mengapa, Yesus bertindak dan memberikan harapan dan gagasan serta cara pandang baru. Sehingga mengikuti teladan Yesus,-  daripada bertanya, “mengapa?” -, kepercayaan mendalam pada Tuhan Yang Penuh Kasih memungkinkan serta mengilhami bertindak untuk mengatasi penderitaan.

Saint Telemachus, seorang biarawan di awal abad ke-5, merasakan panggilan Tuhan untuk pergi ke Roma. Segera setelah dia tiba di sana, dia menemukan jalan ke Amphitheatre di mana para gladiator bertarung sampai mati untuk menghibur orang banyak. Dia berlari dari tempat duduknya ke tengah Amphitheatre dimana dia berteriak, “Dalam Nama Yesus berhenti!” Dia dirobohkan oleh seorang gladiator dan dicemooh oleh orang banyak. Dia bangkit kembali dan berteriak lagi, “Dalam Nama Yesus berhenti!”  Kali ini, atas desakan orang banyak, dia ditusuk dengan pedang dan sekarat, jatuh ke tanah. Dengan susah payah dia bangkit. Sekali lagi untuk berkata dengan lemah, “Dalam Nama Yesus berhenti!” Kemudian dia meninggal.

Penderitaan Telemachus memungkinkan orang Romawi untuk melihat kejahatan “hiburan” mereka. Kematian yang tidak masuk akal itu akhirnya menjadi penanda hari terakhir pertarungan gladiator di Roma.

Penderitaan Yesus membantu pengikut-Nya untuk melihat dengan cara yang sama. Dalam Matius 25: 31-46 Yesus memberitahu bahwa Dia dapat ditemukan bersama orang sakit, lapar, haus, kesepian, telanjang, dan mereka yang dipenjara. Politik-Nya adalah kasih karunia.

Allah, yang di sepanjang Perjanjian Lama, selalu tersembunyi dari umat-Nya (Jika seseorang melihat Allah, dia akan mati). Pada saat kematian Yesus, tirai di Bait Suci yang memisahkan Allah dari manusia, terkoyak menjadi dua. Kita dapat “langsung” melihat Allah di dalam Yesus yang menderita di kayu salib untuk manusia. Yesus mati untuk mengungkapkan Tuhan yang cukup mengasihi kita untuk menderita bagi kita.

Penderitaan dapat menabur benih kepahitan dan kebencian, namun bukan itu cara murid Yesus harus menanggapinya. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk melihat penderitaan sebagai bagian dari kehidupan, dan berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan menghidupi kesaksian yang lebih baik, untuk mewujudkan kerinduan untuk dunia yang lebih baik.

SEBUAH KONFERENSI BERBAU FILOSOFIS

Philosophers sedang berkerumun.

Mereka hendak bertanya tentang Tuhan yang memperkenalkan diri-Nya dalam Keluaran, dengan ‘Aku Adalah Aku’,

Panggilan itu muncul ketika orang-orang Israel yang diperbudak di Mesir, berseru kepada Tuhan untuk pembebasan. Dan Tuhan menjawab seruan mereka, dan menggunakan ungkapan “Aku adalah Aku”, untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai pembebas mereka.

Dalam Bahasa Ibrani, bagian ini menggunakan kata kerja ehyeh (suatu bentuk dari kata hayah ), biasanya diterjemahkan “Aku” atau “Aku akan menjadi.” Dalam Alkitab, hayah dikatakan membawa bobot tambahan untuk mewakili Tuhan itu sendiri: Yahweh, “Aku.”

Orang2 yang mendekam di bawah cambuk para penindas pada waktu itu, tidak hanya perlu mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Mereka juga perlu tahu bahwa Dia hadir bersama mereka. Dan itulah tepatnya yang Tuhan nyatakan kepada Musa dan diabadikan dalam namanya Yahweh, seperti yang didefinisikan oleh kata kerja ehyeh.

Para teolog menunjukkan bahwa Tuhan tidak memiliki permulaan dan tidak bergantung untuk keberadaan yang berkelanjutan pada apa pun selain dirinya sendiri. Yhwh adalah nama yang paling jelas menggambarkan esensi dan identitas ini. Namanya ..’menjadi’. Dalam terjemahan itu (Septuaginta), Keluaran 3:14–15 diterjemahkan, “Allah berbicara kepada Musa, mengatakan, ‘Akulah yang menjadi-Satu (ego eimi ho on). ‘ . . . Katakanlah kepada bani Israel, ‘Yang-Satu (ho on) telah mengutus Aku kepadamu.’” Dengan cara ini, penjelasan Tuhan tentang nama-Nya ditafsirkan sebagai pernyataan keberadaan diri.

Dalam bahasa Ibrani alkitabiah, kata kerja hayah tidak hanya menyampaikan keberadaan tetapi juga keberadaan yang nyata. Ini menunjukkan penampilan, kehadiran, atau berdirinya sesuatu. Sigmund Mowinckel, salah satu Teolog  (terkait “The Name of the God of Moses” jo.  “The Early History of the Verb ‘to Be’”), menjelaskan, kata kerja Ibrani hayah/ehyeh, “bukanlah bahasa Yunani abstrak [einai, ‘menjadi’], keberadaan semata. Bagi bahasa Ibrani ‘menjadi’ tidak hanya berarti ada. . ., tetapi untuk menjadi aktif, untuk mengekspresikan diri dalam keberadaan yang aktif.”

Dalam nama Yahweh, Tuhan membuat dirinya dikenal sebagai makhluk yang hadir —hadir bersama dan untuk umat-Nya. Dan di mana pun hadirat Tuhan dipanggil, pengumuman itu mengandung kepastian perhatianNya, kekuatanNya, dan rahmatNya.

“Yahweh” menunjukkan kepada kita tidak hanya bahwa Tuhan itu ada tetapi juga bahwa Dia dekat dengan umat-Nya dalam kasih.

Immanuel, Tuhan beserta kita.

Seharusnya topik sudah selesai, namun Philosophers masih berkerumun.

Kini mereka hendak bertanya tentang Yesus sebagai seorang filsuf.

Dia pasti seorang filsuf, seseorang berkata, Dia menggunakan bahasa yang hidup dan kiasan, seperti perumpamaan, untuk memungkinkan orang melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Filsuf Amerika Peter Kreeft (seorang Thomist), malah mengatakan, bahwa Yesus itu bukan yang berfilsafat, malahan adalah Filsafat itu sendiri.

Filsuf lain menambahkan, tidak masuk akal untuk percaya bahwa Tuhan akan memberi kita karunia rasionalitas kita, namun memerintahkan kita untuk tidak menggunakannya. Jadi kesimpulan sementara konferensi berbau filosofis, kita bersyukur Iman diajarkan sebagai suatu kebajikan, sekaligus kepercayaan pada apa yang rasional, bukan iman yang buta.

NOT TOTALLY MONKEY

Konon dalam setiap manusia, ada binatang buas yang tersembunyi.

Dostoyevsky meng-istilahkannya sebagai kebiadaban yang melekat pada manusia. Hobbes menyebutnya kecenderungan alami manusia, suatu  kondisi yang disebut Warre; semacam situasi dimana setiap orang melawan setiap orang.

Kant menyebutnya sebagai konflik bawaan manusia. “Perang, … tampaknya sudah mandarah daging dalam sifat manusia, dan bahkan dianggap sebagai sesuatu yang mulia dimana manusia diilhami oleh kecintaannya pada kehormatan, …” Ini pendapat Kant yang tetap mempertahankan konsepsi pesimistis tentang umat manusia. Yang dalam perkembangannya akal manusia lalu mengajarinya manfaat dari kerukunan dan damai, yang mendorong manusia untuk mempertimbangkan dan mewujudkan pengaturan yang lebih damai dari urusan mereka.

Beberapa yang lain, lebih positif. Kenneth Waltz, misalnya, meskipun sifat manusia tidak diragukan lagi berperan dalam menimbulkan perang, namun tidak dengan sendirinya menjelaskan perang dan perdamaian, …kadang2 dia berperang, kadang2 tidak.

Socrates mengajak mengawalinya dengan komitmen pada argumen rasional yang cermat dan eksplisit, serta transparansi ucapan. Tujuannya untuk menunjukkan kepada orang2, struktur batin pemikiran mereka sendiri, atau kadang2 atas kurangnya kejelasan dalam pemikiran mereka. Komitmen terhadap akal ini memiliki kepentingan sosial. Seperti yang dilihat Socrates, sebagian besar pemikiran dalam kehidupan politik adalah ceroboh, penuh dengan istilah yang tidak jelas, penalaran yang salah, dan kontradiksi yang tersembunyi.

Kekerasan menghancurkan kehidupan dan lingkungan. Beberapa film juga menggambarkan ke-absurd-an kekerasan dengan segala dampaknya. Manusia harus mencari kesempatan untuk berdialog dan belajar, dalam semua disiplin ilmu, juga seni seperti film. Memang terlalu banyak detail dan kompleksitas kehidupan manusia yang sebenarnya. Namun manusia harus tetap mendidik dirinya sendiri untuk lebih peduli,  belajar untuk lebih memahami aspek2 kehidupan manusia satu dengan yang lain dengan lebih baik.

Dalam Kitab Suci ada kisah bagaimana orang yang kerasukan telah terusir dari ras manusia. Setelah pengusiran setan, kemanusiaannya pulih sepenuhnya dan dia bergabung kembali dengan ras manusia, berpakaian dan menguasai kembali pikirannya.

Berani memilih untuk menguasai pikiran sendiri, berani mengkritik diri sendiri, dan dalam beberapa hal berani mengubah diri sendiri. Atau pilihan lainnya, kerasukan dan kehilangan kemanusiaan.

#penggemar  movie “Spirited Away” Chihiro no kamikakushi dan “My Neighbor Totoro”  Tonari no Totoro.-

Catatan Carut Marut

Rusia meng-invasi Ukraina. Dan sekarang pasukannya sudah mencapai pinggiran Ibukota Ukraina, Kyiv. Mengapa Rusia menyerang Ukraina? Dalam pidatonya, Presiden Putin menyatakan, Rusia tidak merasa aman dari apa yang dia sebut sebagai ancaman konstan dari Ukraina modern.

Rusia gamang. Karena langkah Ukraina menuju Uni Eropa dan aliansi militer NATO. Ukraina berada di timur Eropa, dibatasi oleh Rusia di timur laut, timur, dan tenggara, dan Laut Hitam di selatan. Di barat daya, barat, dan utara, Ukraina berbatasan, searah jarum jam, dengan Moldova, Rumania, Hongaria, Slovakia, Polandia, dan Belarus. Pemerintah Rusia khawatir bahwa keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dan NATO membuat Rusia terkepung  ‘jajaran tembok’ negara2 sekutu barat, ditambah Korea Selatan dan Jepang yang memang bersekutu dengan AS.

Belum selesai carut marut ini, tiba2 Kim Jong-un meramaikan kegalauan dunia dengan melakukan apa yang diklaimnya sebagai uji coba peluru kendali taktis, dengan menembakkan lagi dua rudal jelajah (total  ada 6 rudal balistik sejak 5 Januari). Alasannya? Karena merasa diabaikan, dan hendak menunjukkan fakta kehidupan (dia hendak minta bantuan ekonomi ke AS), dengan menerbangkan rudal balistik jarak pendek, lalu melanjutkan provokasi dengan uji coba rudal jarak menengah dan jarak jauh yang diselingi uji coba nuklir.  

Sungguh ironis. Bumi semakin tua dan reot peot. Manusia? Galau malau, tunggang langgang.

du Miroir

Adalah J.Lacan yang menggunakan tahap permulaan pengenalan diri sendiri melalui cermin. Konsepnya, cermin khususnya, mengubah diri menjadi objek yang dapat dilihat dari luar, terutama sejak usia dini.

Dalam pengembangannya, cermin dianggap membantu mengembangkan rasa identitas diri, terutama anak2, namun tidak benar2 membuat mereka mengenali diri – identitas dan kepribadian -. Karena prediksi tersebut tidak berlaku bagi individu yang tidak mempunyai kapasitas melihat kedirian mereka sendiri.

Pengembangan selanjutnya, cermin diabstraksikan ke titik yang tidak lagi menggunakan cermin literal, namun juga berupa pengamatan anak terhadap perilaku yang diamati dalam gerakan meniru subjek lain. Sesaat setelah subjek dengan gembira mengambil gambarnya sebagai miliknya, dia menoleh ke arah ‘yang lain’. Mengenali diri sendiri sebagai “aku” sama saja dengan mengenali diri sendiri sebagai orang lain: (“ya, orang di sana itu adalah aku”).

Upaya menemukan subjek terbukti sulit untuk dipahami, bahkan dapat membawa kepada tindak mengasingkan diri, -antara kebencian (“saya benci versi diri saya yang itu”) dan cinta (“saya ingin menjadi seperti gambar itu”)-. Sang Buddha pun berdiam diri ketika ditanya apakah ada ‘diri’ atau tidak, karena itu menjadi penyebab utama perselisihan.

Kita hidup di dunia yang sangat menghakimi hari ini. Jika anda terlihat berbeda, bertindak berbeda, berbicara berbeda atau bahkan berpikir berbeda, ada beberapa orang yang akan menghakimi anda (bahkan dengan kasar). Walau tentu saja ada perbedaan antara membuat pengamatan objektif tentang seseorang vs. menghakimi mereka. Kant percaya bahwa akal juga merupakan sumber moralitas, dan bahwa estetika muncul dari kemampuan penilaian yang tidak memihak (pemikiran yang kritis dan reflektif).
Sebagai suatu keharusan bekerja menurut hukum yang tidak kita ketahui, kita menyebutnya takdir, sebagai konsep pemikiran kebijaksanaan yang lebih tinggi yang menentukan arah alam dan mengarahkannya ke tujuan akhir yang objektif dari umat manusia.

“Jangan menghakimi, atau kamu juga akan dihakimi. Karena seperti kamu menghakimi orang lain, kamu akan dihakimi, dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, itu akan diukurkan kepadamu.”
Bagaimanapun kita perlu melepaskan penilaian yang tidak adil, menerima tanggung jawab atas tindakan kita sendiri dan berhenti menggunakan Tuhan untuk mendukung agenda atau dosa kita. Dan mengenai refleksi masa lalu, mengutip Gandalf (dalam The Lord of The Rings, The Return of The King): ‘saya tidak akan mengatakan ‘jangan menangis’, karena tidak setiap air mata itu buruk’.

Menjelajahi Dua Setengah Pikiran

Pikiran Satu

Aristoteles pernah bertanya, apakah seseorang harus lebih mencintai dirinya sendiri, atau lebih baik mencintai orang lain.

Dalam “Nicomachean Ethics”, ia merinci seperti apa menurutnya orang yang berbudi luhur, diantaranya membedakan cinta untuk diri sendiri, dan cinta diri/keegoisan. Filsuf ini percaya bahwa fakta sebenarnya bertentangan dengan teori tentang keegoisan. Jika memang benar mencintai sahabat adalah baik, dia juga menemukan bahwa kita sendiri adalah sahabat terbaik yang bisa kita miliki.

Artinya, anda adalah teman terbaik anda sendiri.

Jadi, dia bertanya-tanya: apakah egois untuk mencintai diri sendiri? Secara logis, hubungan terdekat yang bisa dimiliki dalam kehidupan setiap orang adalah hubungan dengan dirinya sendiri. Pada akhirnya, dengan siapa kita hidup 24 jam sehari dan dengan siapa kita harus bertahan, tidak peduli suasana hati apapun?

Seru kan!!! 😁

Pikiran Satu Setengah

Lalu Ia meng-identifikasikan dua jenis keegoisan.

Yang pertama, Ia sebut kebiasaan vulgar, yakni yang menyimpan kekayaan, kehormatan, dan barang-barang ‘terbesar’ untuk diri sendiri (mengambil lebih dari bagiannya yang adil). Pengabdian sejati mereka pada memuaskan hasrat dan keinginan, – suatu bagian jiwa yang menurut Aristoteles paling irasional-, mengumpulkan barang-barang materi, semakin berharga, semakin baik.

Keegoisan kedua, yang tidak vulgar, yakni yang dibimbing oleh tingkat keadilan dan kebijaksanaan tertinggi. Orang2 mulia yang juga egois, karena mendedikasikan dirinya, tubuh dan jiwanya, untuk mencari kebijaksanaan, keadilan, dan keindahan, karena di sinilah mereka temukan kesenangan, -namun kesenangan yang memperkaya seluruh masyarakat.

Pikiran Dua

Bagi filsuf Yunani, kebajikan adalah yang tertinggi dari semua barang yang bisa dimiliki. Dari kebajikan ini, maka seseorang dapat memberikan simpati dan kasih sayang kepada orang lain, yang berujung pada pengejaran kehidupan reflektif. Karena dari relasi dengan orang lain itulah Ia dapat merenungkan tindakan yang layak.

Pikiran Dua Setengah

Epistemologi cinta menanyakan bagaimana kita dapat mengetahui cinta, bagaimana kita dapat memahaminya, apakah mungkin atau masuk akal untuk membuat pernyataan tentang orang lain atau diri kita sendiri sedang jatuh cinta.

Jika cinta murni merupakan kondisi emosional, masuk akal untuk menyatakan bahwa cinta tetap menjadi fenomena pribadi yang tidak dapat diakses oleh orang lain, -kecuali melalui ekspresi bahasa-, maka kebenarannya berada di luar pemeriksaan.

Cinta mungkin memiliki sifat, namun kita mungkin tidak memiliki kapasitas intelektual yang tepat untuk memahaminya – demikian, kita mungkin mendapatkan sekilas esensinya – seperti yang dikatakan Socrates dalam Simposium, tetapi sifat aslinya selamanya berada di luar jangkauan intelektual manusia.

Dengan demikian, cinta mungkin sebagian dijelaskan, atau diisyaratkan, dalam eksposisi dialektika atau analitis dari konsep tetapi tidak pernah dipahami dalam dirinya sendiri. Karena itu, cinta dapat menjadi entitas epifenomenal, yang dihasilkan oleh tindakan manusia dalam mencintai, tetapi tidak pernah ditangkap oleh pikiran atau bahasa.

Dan konon hanya raja-raja filsuf yang dapat mengetahui cinta sejati.

Know thyself

Santo Ignatius dari Loyola pernah mengajarkan latihan tradisi hidup Ignatian. Bagaimana mengalami kehidupan yang selaras sehingga menemukan Tuhan dalam segala hal, maksudnya menyadari kehadiran Tuhan dalam segala hal. Suatu strategi dalam mencapai transformasi dunia kita dan diri kita sendiri, sebagai suatu sarana, bukan tujuan.

Pengajaran lainnya, terkait cura personalis, bahasa Latin untuk “peduli terhadap pribadi”. Cura personalis bermuara pada penghormatan terhadap semua yang membentuk setiap individu. Kepedulian terhadap pengembangan pribadi “manusia seutuhnya” dan dedikasi untuk memajukan martabat manusia.

Ada lagi Magis, Latin-nya berarti “lebih” atau “kebaikan yang lebih besar”. Magis mewujudkan refleksi dan penegasan: “Apa pilihan terbaik (lebih baik) dalam situasi tertentu yang dihadapi dalam hidup.

Ciri yang mencolok dari pikiran kita adalah betapa sedikitnya kita memahaminya. Meski kita menghuni diri kita sendiri, kita jarang berhasil memahami lebih dari sebagian kecil dari siapa kita, memahami apa yang bermain di lipatan otak kita sendiri. Terkadang kita cenderung melihat ke luar dan lupa melihat ke dalam. Padahal struktur yang membentuk tubuh kita termasuk di dalamnya kerumitan cara berfikir, sama menakjubkan dengan ciptaan alam di luar dan sekitar. Kita waspada memperhatikan apa yang terjadi secara eksternal, tetapi sedikit memperhatikan apa yang terjadi dalam pikiran sendiri atau pikiran orang lain.

Bukan kebetulan bahwa Socrates meringkas seluruh kebijaksanaan filsafat menjadi satu perintah sederhana: kenali diri sendiri! Ini adalah ambisi yang terdengar aneh, menjelajahi jalan pintas dari pikiran kita sendiri, menangkap ide dan perasaan yang muncul dari semak2 mental.

Pentingnya pengetahuan diri versi paling awal adalah cerita dari Filsuf Romawi kuno, Aulus Gellius, Androcles dan Singa. Cerita yang dapat dikategorikan Fabel ini berguna sebagai alegori tentang pengetahuan diri. Androcles seorang anak gembala, dengan singa yang tinggal di kaki pegunungan Atlas (sekarang Aljazair) yang mendadak garang.  Androcles yang mencermati singa, mengetahui sumber permasalahannya dan mengeluarkan duri dari cakarnya. Singa yang sangat kesakitan, tidak memiliki kapasitas untuk memahami apa yang sebenarnya menyakitinya dan bagaimana dia bisa memperbaikinya. Dalam kesusahannya yang membabi buta, dia bertindak dengan cara yang sangat agresif dan mengancam, dan menakuti semua orang.

Singa adalah kita semua ketika kita tidak memiliki wawasan tentang kesusahan kita sendiri. Duri adalah elemen yang mengganggu dan menjengkelkan dari kehidupan batin kita.

Tetapi ada sisi lain dari kita yang mirip Androcles, yang dapat dengan tenang melihat dan melewati kemarahan untuk mengetahui apa masalahnya sebenarnya. Dan kemudian menenangkan kemarahan dan menemukan solusi yang konstruktif. Tuhan telah menciptakan kita secara luar biasa, jadi tentu tidak berlebihan, untuk menemukan Tuhan di sana. Lagipula satu2nya orang yang bepergian dengan anda sepanjang hidup anda adalah anda sendiri.

Bagi Socrates, tujuan filsafat adalah untuk “mengetahui dirimu sendiri”. Bagian penting dari mengenal diri sendiri harus mengenali batas kebijaksanaan dan pemahaman Anda sendiri—mengetahui apa yang benar-benar Anda ketahui dan mengetahui apa yang belum anda pelajari.

Lao Tzu , dalam karyanya Tao Te Ching, mengatakan: “Mengenal orang lain adalah kecerdasan/kebijaksanaan. Mengetahui diri sendiri adalah pencerahan/kebijaksanaan sejati. Menguasai orang lain membutuhkan kekuatan. Menguasai diri membutuhkan kekuatan/kekuatan sejati.” Ketiadaan definisi diri itu diarahkan untuk menghindari kemelekatan pada “aku”, mencari kenyataan dan mencapai ketidakterikatan.

Auguste Comte berpesan, kenali diri anda untuk memperbaiki diri. Bagaimanapun tubuh dan jiwa adalah anugerah dari Tuhan. Kehampaan hidup adalah kehidupan dalam kematian. Jadi tidak berlebihan bila kita berjuang, mencari, menemukan, dan tidak menyerah.

Create your website with WordPress.com
Get started